Insiden Mading SMADA

Rabu, 28 Juli 2010.

          SHOCK. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan beragam emosi dari seluruh anggota tim Mading SMAN 2 Kediri. Bagaimana tidak? mading 4D yang semula begitu indahnya, rusak dalam waktu kurang dari 5 menit. Parahnya mading tersebut rusak tepat di depan gedung IKCC dimana tempat final perang mading School Contest IV akan berlangsung keesokan harinya. Sungguh sangat ironis. Peristiwa itu mengingatkan kami pada kejadian 1 tahun lalu, dimana 2 hari sebelum Final Perang Mading School Contest III berlangsung, kejadian serupa juga menimpa tim ini. Bedanya tahun lalu mading rusak di Aula sekolah –tempat pembuatan mading tersebut.


          Beragam pertanyaan dilontarkan berbagai pihak, tetapi karena masih shock semua anggota tim tutup mulut dalam insiden ini. Dan tak diduga sebelumnya, mereka tak menyerah melainkan berupaya mencari solusi. Bagaimanapun juga mereka harus tetap ikut final party ini. 

“Hari ini kita dapat banyak sekali pelajaran berharga untuk yang kesekian kalinya. Mungkin kita memang tidak bisa mempersembahkan mading yang sempurna buat SMADA, tapi yang membuat aku bangga adalah kita mampu membuktikan kalau tidak ada yang bisa menghalangi langkah kita untuk ikut lomba mading dari awal hingga akhir kometisi ini. Karena kita sadar bahwa kita anak SMADA, yang tidak mengenal kata menyerah. ” jelas Ratna setelah kembali tenang dari keterkejutannya. 

          Patut diacungi jempol tim ini, dengan keyakinan yang telah pulih ke 8 anggota tim memutar otak untuk menyempurnakan mading mereka kembali. Sekali lagi tak disangka-sangka sebelumnya, mereka merubah mading yang semula berwarna full gold berubah menjadi colourfull dengan corak salju dan ukiran ranting pohon. Semua tambahan itu ditujukan untuk menutupi bekas keretakan yang ada serta penyambungan bagian-bagian yang patah. 

“Kita berupaya membuat ketidak-beruntungan ini menjadi berkah buat kita. ” ujar Ratna sambil masih menambahkan beberapa pernik untuk menghiasi mading tersebut.
“Yah anggap saja istana ini ada dimusim salju yang sudah hampir berakhir,” tambah Mayang, ketua tim mading SMADA, “soal penyebab insiden ini, maaf hanya orang-orang tertentu yang kami beri tahu kronologinya.” Jawab Mayang sambil tersenyum jahil.

FLEXI Accoustic Group Contest

               Hawa panas mulai terasa semakin panas ketika bunyi alunan music dari Revolver –acoustic group dari SMAN 3 Kediri- terdengar, menandakan dimulainya kontes musik ini. Walaupun masih pertama kalinya digelar, peminat dari Flexi Acoustic group contest yang diselenggarakan oleh Radar Kediri. Kontes berlangsung sangat seru dengan sumbangan sorak - sorai dari supporter tiap tim. Dukungan dari teman-teman dapat meningkatkan rasa semangat serta optimis pada diri peserta. Bayangkan saja jika kita tidak memiliki pendukung dalam suatu kompetisi pastinya itu akan memberikan efek negative difikiran kita.


               Mengenai rasa nerveous pastinya selalu ada di hati tiap peserta walaupun itu hanya sedikit. Entah itu saat persiapan, atau saat penampilan, bahkan ada juga yang mengaku nerveous setelah sehabis show, yah…tapi itu minim sekali. kebanyakan rasa nerveous datang saat detik-detik terakhir menuju penampilan.“Sempat nerveous sedikit, tapi setelah di panggung sudah tidak lagi.” Ujar Citra, vokalis Glory Morning dari SMAN 1 Kediri, usai menyanyikan lagu Yamko rambe yamko dengan apiknya. Walaupun begitu ia juga menegaskan bahwa ia dan timnya optimis menang . Hal serupa juga dialami oleh peserta dari group-group lainnya.

               Persiapan yang matang sudah dilakukan demi perfoma terbaik hari ini. Rasa optimis memang wajib ada di hati setiap peserta. “Kami Optimis menang! latihan setiap hari sudah kami lakukan dan inilah waktunya kami berkarya.” Kata Bangun, salah seorang personil Precious Acoustic dari SMAN 8 dengan penuh semangat. Ia dan timnya sudah menyiapkan vocal Group dengan style menyanyi yang unik berbeda dengan group-group lainnya.

              Tidak kalah antusiasnya dari group yang duduk dibangku SMA. Peserta dari SMP pun juga yakin dapat meraih kemenangan di acara ini. Over all seluruh peserta benar-benar membuat juri bingung memilih pemenangnya.

Kostum Budaya Masih Mendominasi

                       29 JULI 2010, final party school contest IV telah dimulai. Kali ini mengusung tema My Future My Obsession, yang mengharuskan peserta memadukan imaginasi dan kreasi yang lebih unik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Acara digelar mulai pagi hari, dibuka secara simbolik oleh wali kota bapak Samsul Ashar para finalis perang mading memasuki zona competetion dengan style masing-masing. Belajar dari pengalaman tahun lalu semua peserta berlomba dengan berpenampilan semenarik mungkin. Masih dalam euphoria hari jadi kota Kediri yang mengutamakan kebudayaan, kebanyakan costum yang mereka pakaipun lebih condong pada tema tersebut. Walaupun begitu adapula berbagai costum unik lainnya, seperti costum astronot, badut, FIFA world cup, dan bahkan costum korban bencana bom.

                      Selain peserta perang mading, nampak pula peserta Flexi School Photograph contest dan Flexi School Photograph yang memulai aksinya. Sinar blitz terus menyambar dari tangan fotografer-fotografer muda tersebut. Tak ketinggalan peserta lomba poster dengan lihainya menarikan tangan mereka di atas media kertas .

                      Menginjak siang, di samping panggung utama berkumpul musisi-musisi muda yang bersiap unjuk kebolehan dalam acoustic group contest. Sama seperti peserta perang mading. Costum dengan tema budayapun juga mendominasi.