Mengapa Merpati Menjadi Simbol Cinta?

Merpati merupakan simbol kedamaian serta cinta di Hari Valentine. Mengapa?

Asosiasinya membawa kita kembali ke abad pertengahan ketika orang-orang meyakini semua burung memilih pasangannya di Hari Valentine. Meski beberapa burung mencari pasangan selama pertengahan Februari, termasuk burung hitam dan ayam hutan, kebanyakan musim kawin burung berlangsung selama musim semi dan musim panas.

Burung merpati itu dipilih mewakili cinta karena mitologi Yunani terkait burung kecil putih bersama Aphrodite, dewi cinta. Aphrodite/Venus sering digambarkan bersama merpati beterbangan di sekitarnya atau beristirahat di tangannya.

Merpati juga mewakili monogami dan kesetiaan dalam hubungan karena burung ini cenderung tinggal bersama pasangannya selama musim kawin.

Merpati jantan juga membantu menetaskan dan merawat anak mereka, yang membantu burung ini mencapat citra setia dan mencintai.

Bahkan, reputasi mereka sebagai simbol cinta begitu kuat dan membuat banyak resep obat cinta populer di abad pertengahan memasukkan jantung burung merpati sebagai bahannya. [mor]

Inilah Gorila Kembar Terlangka di Dunia

Gorila kembar telah lahir di pegunungan Rwanda. Gorila ini dianggap langka karena kembar dalam populasi gorila gunung sangat tidak biasa. Seperti apa?

Gorila kembar ini merupakan penunggu baru Taman Nasional Gunung Berapi Rwanda dan tercatat sebagai kembar kelima yang berhasil terekam.

Saat ini, gorila gunung setidaknya berjumlah 800 ekor yang hidup di alam liar seluruh dunia, menurut LSM Gorilla Organisation yang berada di Inggris.

"Sangat jarang menemukan gorila gunung yang kembar. Keduanya adalah pejantan dan kami merasa bahagia untuk mengetahui masa depan mereka," ujar manajer program Gorilla Organisation.

Ibu gorila biasanya hanya memiliki satu bayi setiap empat tahun atau lebih. Inilah yang menjadi alasan mengapa jumlah gorila sangat sedikit dan rentan kematian.

Lebah Punah Pangan Dunia Terancam

Jakarta - Teori Einstein terbukti benar. Kepunahan lebah madu mengancam keamanan pangan dunia. Krisis lebah menciptakan ketakutan di kalangan industri makanan.

Hampir sepertiga hasil pertanian dunia bergantung pada penyerbukan hewan, sebagian besar berada di tangan lebah madu. Makanan tersebut menyediakan materi mineral, vitamin dan anti oksidan bagi tubuh.

Karenanya, jika jumlah lebah menurun drastis, ketahanan makanan ikut terguncang. Fenomena itu dikabarkan akibat parasit atau virus, penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga mengganggu sistem saraf lebah muda serta pengurangan habitat besar-besaran.

Krisis lebah dipandang sebagai keprihatinan serius, termasuk dalam pandangan PBB. Pemberi pinjaman agribisnis Rabobank mengatakan jumlah koloni lebah AS telah gagal bertahan hidup selama musim dingin. Kewaspadaan yang sama juga muncul di Eropa, Amerika Latin dan Asia.

Ilmuwan Albert Einstein pernah mengatakan ungkapan yang membuat masyarakat terhenyak. “Jika lebah menghilang dari permukan bumi, manusia hanya punya kesempatan hidup selama empat tahun.” Seperti skenario kiamat yang berlebihan, ungkap pihak Rabobank.

Tumbuhan jagung, gandum dan padi memang diserbuki angin. Namun penyerbukan hewan sangat penting bagi kacang-kacangan, melon, jeruk, apel, bawang, brokoli, kubis, kecambah, paprika, terong, alpukat, mentimun, kelapa, tomat dan kakao. Tumbuhan tersebut merupakan produk yang paling berharga bagi ekonomi global.

Lebah yang terancam punah sudah mencapai titik berbahaya, keluar dari jalur keteraturan. Bahkan, Amerika Serikat mengklaim keadaan ini sangat ekstrim dibandingkan 1961.

“Petani mulai mengatur produksi panen dengan sedikit koloni lebah. Memang belum ada bukti dampaknya di bidang pertanian namun kita belum tahu soal masa depan yang mengkhawatirkan,” tulis laporan Rabobank.

Rabobank mengatakan koloni lebah AS diperparah dengan masuknya madu Asia yang melemahkan industri Amerika Serikat sendiri. Apalagi, pasokan murah ini semakin gencar sejak 1990.

China juga mengalami masalah yang sama. Pestisida yang digunakan di kebun pir sudah menyapu bersih lebah di kawasan Sichuan pada 1980. Karenanya, petani saat ini menggunakan sistem penyerbukan manual dengan tangan. Sangat menyulitkan mengingat satu koloni lebah bisa menyerbuki bunga hingga 300 meter per hari.

Jerman, Prancis dan Italia telah melarang beberapa pestisida terutama neonicotinoids (semacam tembakau) yang membahayakan keberadaan lebah. Asosiasi Peternak Lebah Inggris menyerukan ulasan aturan pembatasan pestisida karena khawatir negara tersebut benar-benar kehilangan lebah dalam satu dekade terakhir.

Kementerian Pertanian Amerika Serikat via Laboratorium Penelitian Lebah menemukan bukti pestisida dalam jumlah minimum mampu mengurangi kemampuan lebah melawan patogen jamur.

Dokumen Badan Perlindungan Lingkungan Inggris yang sempat bocor di internet menyebutkan clothianidin yang digunakan pada biji jagung sangat beracun karena menimbulkan risiko jangka panjang bagi lebah.

Menurut catatan Rabobank, masyarakat dunia harus memaksa perusahaan makanan dan pupuk menemukan cara meningkatkan hasil panen tanpa membahayakan lebah. Apalagi, 70 juta konsumen membutuhkan materi pertanian setiap tahun.

Jumlah ini terus bertambah sejalan revolusi makanan Asia, kelangkaan air di China dan India serta kebutuhan besar-besaran gandum di Amerika Serikat, Argentina dan Uni Eropa karena materi ini juga dimanfaatkan untuk bahan bakar mobil. Einstein tidak selalu salah. [mdr]